Kutipan Q Sebagai Seorang Ukhti
Mengenai Saya
- Zuhaerotul Atiroh
- Garut, jawa barat, Indonesia
- Bismillahirohmanirrohim.... Assalamu'alaikum. Salam ukhuwah kepada semua pengunjung blog ini..... mohon ma'af bila ada kesalahan dengan tulisan ini dan semoga bermnfa'at bagi pembaca Selamat Membaca....^_^
Senin, 21 Mei 2012
Wanita
♥ Seorang wanita sempurna seperti setangkai
mawar berduri.., Dan kesempurnaan mawar adalah pada durinya.. Semua
kisah,puisi,syair dari klasik hingga postmodern memberi tajuk ‘mawar berduri’
untuk gambaran kesempurnaan bunga.., Namun terkadang
orang menganggap duri pada mawar menganggu, merusak bahkan mengurangi keindahan
kelopak mawar... Padahal justru dengan duri itulah setangkai mawar jadi
sempurna, terjaga, terlindungi, tak dipetik sembarang orang..
♥ Mawar adalah wanita, sedangkan duri pada mawar adalah aturan yang melekat dari Allah bagi seorang wanita.., Banyak orang mengatakan aturan yang Allah buat untuk wanita, mengekang,sulit jodoh hingga sulit mendapatkan pekerjaan.., Padahal seperti duri pada mawar justru aturan itu yang melindungi, menjaga dan membuat seorang wanita mulia... Seperti duri yang jadi penyempurna mawar... Maka aturan Tuhan yang menjadi penyempurna wanita.., Dan jika mawar berduri adalah mawar sempurna... Pastinya, wanita dengan aturan yang melekat dari Tuhannya pula wanita yang sempurna....
♥ Seorang wanita sempurna seperti mawar berduri di tepi jurang.., Bukan mawar di tengah taman... Jika mawar ada di tengah taman cenderung semua tangan bisa memetiknya, dari orang biasa hingga orang kurang ngajar yang nekat memetik walaupun ada tulisan “Dilarang Memetik Bunga”. Walau ada larangannya orang tetap berani memetik toh dibawah tulisan larangan itu hanya tertulis ancaman “denda sekian puluh ribu rupiah atau kurungan sekian bulan”. Tapi jika ada di tepi jurang tentu tak semua tangan berani menyentuhnya...
♥ Maka wanita, tumbuhlah di tepi jurang.., Hingga tak sembarang tangan lelaki bisa mencolekmu. Hingga jikapun suatu saat ada seorang lelaki memetikmu... Pastilah lelaki yang paling berani berkorban untukmu.., Bukan sembarang tangan, bukan sembarang orang, bukan sembarang lelaki... Karena wanita bukanlah barang murah yang boleh disentuh seenaknya. Bukan barang hiasan yang bisa dipetik dengan ancaman kecil...
♥ Dan setelahnya tak ada yang lebih indah dari mawar berduri di tepi jurang, bagi seorang lelaki berani.., Seorang wanita dengan aturan dan “keterasingan” lah yang menarik minat lelaki peradaban.., Tapi bagi lelaki pecundang, tentu mengambil mawar tak berduri di tengah taman lebih diinginkan. “lebih sedikit resiko” begitu kata mereka yang kalah.....
Lalu terserah engkau para wanita, Apakah engkau berharap tangan pemberani atau hanya tangan para pecundang yang menyentuh engkau?
♥ Rasulullah bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba’).”(hadits shahih riwayat Muslim)
♥ Disaat hidayah Allah berikan, setelah seorang wanita berkata ingin menjadi mawar sempurna di tepi jurang.., Dengan langkah awal menutup sempurna aurat, sesaat setelah mendengar kisah tadi... Subhanallah, jaga kami semua dalam hidayahMu Ya Rabb… : )
♥ SEMOGA BERMANFAAT ♥
Barakallaahu fikum wa
jazakumullah khoir. Amien
♥ Mawar adalah wanita, sedangkan duri pada mawar adalah aturan yang melekat dari Allah bagi seorang wanita.., Banyak orang mengatakan aturan yang Allah buat untuk wanita, mengekang,sulit jodoh hingga sulit mendapatkan pekerjaan.., Padahal seperti duri pada mawar justru aturan itu yang melindungi, menjaga dan membuat seorang wanita mulia... Seperti duri yang jadi penyempurna mawar... Maka aturan Tuhan yang menjadi penyempurna wanita.., Dan jika mawar berduri adalah mawar sempurna... Pastinya, wanita dengan aturan yang melekat dari Tuhannya pula wanita yang sempurna....
♥ Seorang wanita sempurna seperti mawar berduri di tepi jurang.., Bukan mawar di tengah taman... Jika mawar ada di tengah taman cenderung semua tangan bisa memetiknya, dari orang biasa hingga orang kurang ngajar yang nekat memetik walaupun ada tulisan “Dilarang Memetik Bunga”. Walau ada larangannya orang tetap berani memetik toh dibawah tulisan larangan itu hanya tertulis ancaman “denda sekian puluh ribu rupiah atau kurungan sekian bulan”. Tapi jika ada di tepi jurang tentu tak semua tangan berani menyentuhnya...
♥ Maka wanita, tumbuhlah di tepi jurang.., Hingga tak sembarang tangan lelaki bisa mencolekmu. Hingga jikapun suatu saat ada seorang lelaki memetikmu... Pastilah lelaki yang paling berani berkorban untukmu.., Bukan sembarang tangan, bukan sembarang orang, bukan sembarang lelaki... Karena wanita bukanlah barang murah yang boleh disentuh seenaknya. Bukan barang hiasan yang bisa dipetik dengan ancaman kecil...
♥ Dan setelahnya tak ada yang lebih indah dari mawar berduri di tepi jurang, bagi seorang lelaki berani.., Seorang wanita dengan aturan dan “keterasingan” lah yang menarik minat lelaki peradaban.., Tapi bagi lelaki pecundang, tentu mengambil mawar tak berduri di tengah taman lebih diinginkan. “lebih sedikit resiko” begitu kata mereka yang kalah.....
Lalu terserah engkau para wanita, Apakah engkau berharap tangan pemberani atau hanya tangan para pecundang yang menyentuh engkau?
♥ Rasulullah bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba’).”(hadits shahih riwayat Muslim)
♥ Disaat hidayah Allah berikan, setelah seorang wanita berkata ingin menjadi mawar sempurna di tepi jurang.., Dengan langkah awal menutup sempurna aurat, sesaat setelah mendengar kisah tadi... Subhanallah, jaga kami semua dalam hidayahMu Ya Rabb… : )
♥ SEMOGA BERMANFAAT ♥
Barakallaahu fikum wa
jazakumullah khoir. Amien
Tahukah Kamu Kecantikan Itu Bagaimana?
Tidak Cantik = Rendah diri dan jarang disukai orang.Cantik = Berkeyakinan, terkenal dan disukai banyak orang
Itulah sekelumit formula yang ada dalam fikiran wanita. Sebuah formula yang simple namun amat berbahaya. Dari manakah asal muasal formula ini? Mungkin dari media mahupun pandangan masyarakat yang telah diracuni bahawa, kecantikan hanya terbatas pada luaran sahaja. Yang cantik adalah yang berkulit putih, tinggi, hidung mancung, bibir merah dan sebagainya.
Akibatnya banyak kaum hawa yang ingin kelihatan cantik seperti yang digambarkan. Mereka tergoda untuk membeli kosmetik yang dapat mewujudkan mimpi-mimpi. Mereka lalai tentang syariat yang telah mengatur batasan-batasan untuk tampil cantik.
Mereka ingin kelihatan secantik model dan bintang filem. Perkataan cantik telah disalah erti sedemikian rupa oleh media, sehingga menukarkan hakikat cantik yang sebenarnya. Mereka sibuk mencalit bedak pada kulit tanpa peduli pada hati mereka yang kian gersang.
Tujuannya?
Jelas, untuk menambah deretan peminat dan agar lebih mudah mencari pasangan hidup. Alangkah naifnya. Fakta menunjukkan perkahwinan yang berjaya adalah bukan dari wanita yang cantik tetapi, dan kebanyakkan perkahwinan yang berakhir ditengah jalan adalah dari wanita-wanita yang cantik. Jadi, kaitan antara cantik dan kejayaan hidup!
Orang yang berjaya dalam perkahwinan, walaupun tidak cantik tetapi keperibadiannya amat menyenangkan. Mereka tidak hanya fokus pada luaran sahaja tetapi mereka lebih peduli pada ‘recovery’ iman yang nampak jelas dalam sikap dan prinsip hidup mereka, kukuh tidak goyah. Pun, jika ada yang berwajah elok, mereka menutupinya supaya kecantikannya tidak menjadi fitnah dan hanya dipersembahkan untuk suami sahaja
prinsip hidup mereka, bersyukur pada apa yang telah Allah berikan tanpa meminta lebih lagi. Ridha dengan bentuk tubuh dan wajah yang dianugerahkan Allah. Kerana inilah bentuk terbaik menurut-Nya, bukan menurut fikiran dangkal kita. Kalau kita boleh memilih, mempunyai wajah dan keperibadian yang cantik itu memang lebih baik, tetapi tidak semua orang dianugerahkan seperti itu. Itulah maha keadilan Allah, ada kelebihan dan kekurangan pada diri setiap orang.
Dan satu perkara yang pasti, Tingkahlaku seseorang itu mencerminkan pemahaman mereka. Jika kita rajin menuntut ilmu agama, insyaallah gerak-geri kita sesuai dengan ilmu yang kita miliki. Begitu juga yang terjadi pada wanita-wanita yang terpaku pada kecantikan fizik semata-mata.
“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan fahamkan ia dalam agamanya”(Sahih, Muttafaqun ‘alaihi).
Hadist diatas dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Baz bahwa ia menunjukkan keutamaan ilmu. Jika Allah menginginkan seorang hamba memperoleh kebaikan, Allah akan memahamkan agamaNya sehingga dia dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang batil, mana petunjuk mana kesesatan. Dengannya pula dia dapat mengenal Rabbnya dengan nama dan sifat-sifatNya serta tahu keagungan hakNya.
Apalah gunanya cantik tetapi hati tidak tenteram. Cantik tetapi dilaknat oleh Allah dan rasulNya. Kecantikan fizikal tidak akan bertahan lama, ia hanya palsu sahaja.
Ada yang lebih cantik dihadapan Allah, Rabb semesta alam, iaitu kecantikan hati yang akan nampak pada mulianya akhlak. Banyakkan muhasabah, kenali apa-apa yang masih kurang dan lekas diperbaiki.
Faham Syari’at = CANTIK
Tidak Faham Syari’at = Tidak CANTIK sama sekali!
Bagaimana? setuju?
“Sesungguhnya Allah tidak melihat luaran kalian dan rupa kalian akan tetapi Allah melihat hati kalian” – (HR.Muslim)
Banyak lebah mendatangi bunga yang kurang harumKerana banyaknya madu yang dimiliki bungaTidak sedikit lebah meninggalkan bunga yang harum kerana sedikitnya maduBanyak lelaki tampan yang tertarik dan terpesona oleh wanita yang kurang cantikKerana memiliki hati yang cantikDan tidak sedikit pula wanita cantik ditinggalkan lelaki kerana keburukan hatinyaKarena kecantikan yang sejati bukanlah cantiknya wajah tetapi apa yang ada didalam dadaMaka percantiklah hatimu agar dicintai dan dirindukan semua orang.
Hijab
ku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di matamu. Apa gunanya aku menjadi perhatian lelaki andai murka Allah ada di situ.
Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya akan menjadi milikmu seorang. Aku tidak akan merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah aku ini barang yang boleh dimiliki sesuka hati.
Aku juga tidak mau menjadi penyebab kejatuhan seorang lelaki yang di kecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan.
Bagaimana akan ku jawab di hadapan Allah kelak andai ditanya? Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup di muka bumi?
Kalau aku tidak ingin kau memandang perempuan lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandanganku. Aku harus memperbaiki dan menghias peribadiku karena itulah yang dituntut oleh Allah.
Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suamiku, aku juga perlu menjadi perempuan yang baik. Bukankah Allah telah menjanjikan perempuan yang baik itu untuk lelaki yang baik?
Tidak kunafikan sebagai remaja, aku memiliki perasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu kerana ia semata-mata untukmu.. :)
Jika ALLAH SWT....ta' ridho
“Bila diri ini cantik dan
indah..rambut seindah sutra.. kulit sewangi mawar.. Tapi tidak dihijab..malah
dipamerkan.. berlomba-lomba dengan yang lain menampakkan cantik tubuhnya.. Jika
Allah tidak ridha...untuk apa, Mbak..?
Hanya menambah dosa..”
“Bila hidup berkecukupan.. tanpa kekurangan.. Tapi jika didapatkan dari korupsi.. memfitnah.. menjilat.. Haram asalnya. Atau dari asal yang halal tetapi tidak pernah pula dibersihkan.. Jika Allah tidak ridha untuk apa..? Hanya sia-sia saja..”
“Bila badan ini kuat dan sehat..tak rapuh walau diserang badai dan wabah..Tapi tak dimanfaatkan untuk bekal akhirat.. Sibuk dengan kegiatan tak bermanfaat..sajadah pun tak pernah dibuka dari lipatannya.. Jika Allah tidak ridha..untuk apa juga..?
Hanya kenikmatan dunia saja..”
“Bila diri ini tampan..seakan menjadi Yusuf abad global.. Menjadi idola kaum hawa..Teman berjibun dan berjamur.. Tapi ketampanan hanya digunakan untuk merayu wanita yang bukan istrinya.. Jika Allah tidak ridha..untuk apa Mas..? Tak lain selain berzina..”
“Bila dunia serasa surga.. semua ada dan serba mewah.. Apa-apa yang diinginkan tinggal gesek kartunya .. Tapi jika tidak shalat..sehari malah kurang dari 17 rakaat..(Kecuali ikhwan pada hari jumat..akhwat saat tamu datang) Jika Allah tidak ridha..untuk apa..? Hanya menggiring ke lidah neraka..”
“Bila pintar sejenius ilmuan..semua nilai tak ada lain selain A.. Terkenal karena kejeniusannya... Tapi Alquran bahkan berdebu dan usang di atas meja.. Jika Allah tidak ridha untuk apa..? Kecerdasan yang buta..” ..
“Bila benar kita bahagia..senang dengan kenikmatan dunia.. Bahagia dengan cinta orang sekitar kita..Tapi jika cinta Allah tak sedikit pun kita kejar.. Untuk apa..?”
Kita hidup untuk meraih ridha Allah.. cinta-Nya yang lebih besar dari cinta terbaik di dunia ini..
Bila hidup begitu akan terasa sangat indah..sesusah apa pun..sesulit apa pun..
Allah takkan meninggalkan kita.. Tak ada yang lebih indah dari Sang Maha Cinta..
Hanya menambah dosa..”
“Bila hidup berkecukupan.. tanpa kekurangan.. Tapi jika didapatkan dari korupsi.. memfitnah.. menjilat.. Haram asalnya. Atau dari asal yang halal tetapi tidak pernah pula dibersihkan.. Jika Allah tidak ridha untuk apa..? Hanya sia-sia saja..”
“Bila badan ini kuat dan sehat..tak rapuh walau diserang badai dan wabah..Tapi tak dimanfaatkan untuk bekal akhirat.. Sibuk dengan kegiatan tak bermanfaat..sajadah pun tak pernah dibuka dari lipatannya.. Jika Allah tidak ridha..untuk apa juga..?
Hanya kenikmatan dunia saja..”
“Bila diri ini tampan..seakan menjadi Yusuf abad global.. Menjadi idola kaum hawa..Teman berjibun dan berjamur.. Tapi ketampanan hanya digunakan untuk merayu wanita yang bukan istrinya.. Jika Allah tidak ridha..untuk apa Mas..? Tak lain selain berzina..”
“Bila dunia serasa surga.. semua ada dan serba mewah.. Apa-apa yang diinginkan tinggal gesek kartunya .. Tapi jika tidak shalat..sehari malah kurang dari 17 rakaat..(Kecuali ikhwan pada hari jumat..akhwat saat tamu datang) Jika Allah tidak ridha..untuk apa..? Hanya menggiring ke lidah neraka..”
“Bila pintar sejenius ilmuan..semua nilai tak ada lain selain A.. Terkenal karena kejeniusannya... Tapi Alquran bahkan berdebu dan usang di atas meja.. Jika Allah tidak ridha untuk apa..? Kecerdasan yang buta..” ..
“Bila benar kita bahagia..senang dengan kenikmatan dunia.. Bahagia dengan cinta orang sekitar kita..Tapi jika cinta Allah tak sedikit pun kita kejar.. Untuk apa..?”
Kita hidup untuk meraih ridha Allah.. cinta-Nya yang lebih besar dari cinta terbaik di dunia ini..
Bila hidup begitu akan terasa sangat indah..sesusah apa pun..sesulit apa pun..
Allah takkan meninggalkan kita.. Tak ada yang lebih indah dari Sang Maha Cinta..
Minggu, 20 Mei 2012
♥ Mencintai Untuk Di Cinta ALLAH♥
❀¸.•❤•.❀ .❀.¸✿ ❀❀.•❤•*• ♥.*•
Bismillahirrahmanirrahiim..
Assallamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
❀¸.•❤•.❀ .❀.¸✿ ❀❀.•❤•*• ♥.*•
Kebanyakan manusia memiliki visi hanya sebatas kehidupan dunia saja. Pikiran, hati, dan tindak tanduk mereka cuma untuk mengejar kesenangan lahiriah saja. Sementara orang-orang yang beriman, memiliki visi yang melampaui kehidupan dunia. Mereka sadar bahwa dunia dan seisinya akan punah pada masanya.Visi mereka tidak berhenti hanya pada dunia melainkan lebih dari itu. Visi mereka mencapai Sang Mahapencipta. Itulah visi akhirat.
Pikiran, hati, dan tindak tanduk mereka tidak diabdikan untuk mereguk kesenangan dunia saja, tetapi ingin meraih Ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka sadar bahwa yang abadi hanyalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dunia dan seisinya akan mereka tinggalkan lalu hancur binasa. Kita pun seharusnya demikian. Janganlah cinta kita terhenti oleh kesenangan dunia, Teruskanlah perjalanan cinta tersebut hingga menuju Sang Pencipta.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :
”Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa : 134).
Memang tidak mudah mengajak diri mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Pesona dunia sangat menggoda dan melalaikan. Namun, manusia bukannya tak mampu melampauinya. Sebab, mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu adalah fitrah.
Fitrah Mencintai ALLAH
Saat kita menengadahkan kepala ke langit, atau berjalan di hamparan bumi nan luas, atau berlayar di samudera yang tak bertepi, maka hati kita akan tergetar. Begitu juga ketika kita mempelajari fenomena air yang mampu menyuburkan tanah, berbagai jenis hewan yang tersebar di seluruh permukaan bumi, bahkan sampai ke dasar samudera, angin bertiup yang tak terlihat sumbernya, awan yang menaungi laksana payung tampa tiang, membuat hati kita terkagum-kagum.
Tapi, orang yang hanya melihat semua itu dari mata lahiriah, akan berhenti sampai pada sesuatu yang tampak secara inderawi saja. Padahal kita diperintahkan agar tidak hanya menyaksikan sesuatu yang tampak saja, melainkan juga memikirkan di balik yang tampak tersebut. Dialah Sang Pencipta.
Al-Qur`an bahkan memuat anjuran ini pada ayat yang turun pertama kali. “Iqra` bismirabbikalladzi khalaq.” Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan.” Ketika kita menyadari bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah pencipta diri dan kehidupan kita maka secara fitrah kita akan cinta dan rindu kepada-Nya. Ini sama seperti fitrah cinta kita kepada kedua orang tua yang menjadi “sumber” keberadaan kita.
Bahkan, cinta kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan berlipat kali cinta kita kepada kedua orang tua. Sebab, pemberian dan kasih sayang yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala jauh melebihi pemberian dan kasih sayang kedua orang tua kita.
ALLAH Cinta Sejati
Ingatlah! Segala sesuatu yang ada di dunia ini, juga segala yang kita cintai, pada hakekatnya adalah kepunyaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam hal apa pun kita mencintai sesuatu, baik keindahannya, kasih sayangnya, kebaikannya, sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala melebihi semua itu.
Jika kita mencintai seseorang karena merasakan kasih sayangnya, maka bandingkanlah dengan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika kita merasa kagum dengan segala kebaikan seseorang maka bandingkanlah dengan kebaikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semua perbandingan itu akan menyadarkan kita bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang, melebihi apa pun.
Jadi, jangan berhenti hanya sampai mencintai sesuatu yang tampak di depan mata. Teruskan perjalanan cinta itu hingga sampai kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Begitulah karakter orang-orang yang beriman sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala Ta’ala : ”Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah,” (QS.Al-Baqarah : 165).
Meraih Cinta ALLAH
Tentu saja kita berharap cinta kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah cinta yang berbalas, bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kita tidak boleh egois dalam mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita tak boleh mencintai semau kita sendiri. Bagaimana caranya agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga mencintai kita? Untuk menjawab ini maka tanyakan kepada diri kita terlebih dahulu, apakah pantas kita dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala?
Jika belum maka buatlah agar diri kita pantas. Nilailah diri kita, bukan dari seberapa banyak kenikmatan yang telah kita dapatkan, tetapi seberapa besar manfaat yang telah kita perbuat selama hidup. Kita bekerja bukan untuk bermegahmegahan, tetapi untuk memberi manfaat sebesar-besarnya kepada orang lain.Nilai pula diri kita apakah selama ini kita telah mengikuti tuntunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya secara benar? Sebab, secara jelas Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :
”Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran : 31)
Apabila kita merasa banyak dosa, segeralah bertaubat dengan menyucikan diri agar kita kembali mendapat cinta-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :
”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS.Al-Baqarah : 222)
Meraih cinta-Nya juga dengan cara memperbanyak amalan kebaikan, menjalankan amalan yang difardhukan, dan mengistiqamahi amalan yang disunnahkan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda :
”Tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku sukai daripada kewajiban yang Aku fardhukan padanya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, kecuali Aku mencintainya.” (Riwayat Bukhari).
Kita semua pasti akan kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Saat kita kembali nanti, semua yang kita miliki akan kita tinggalkan. Apa saja yang kita cintai akan terlepas. Hanya ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menjadi harapan. Kita ingin kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam keadaan ridha dan diridhai. Kita senang kembali kepada-Nya dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga senang menerima kita. Itulah visi akhir hidup yang harus kita raih.
Manusia yang paling sengsara di akhirat adalah manusia yang paling kuat cintanya kepada dunia. Sedangkan manusia yang paling bahagia di akhirat adalah yang paling kuat cintanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Berbahagialah mereka yang dipanggil Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam keadaan hati yang ridha lagi diridhai. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
”Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr “ 27-30).
**Diadaptasi dari : Kajian Utama Majalah Suara Hidayatullah, diedit dan disunting kembali oleh : Nafisah Khairunisa Muenthazzar.**
Sahabat-saudaraku fillah yang di Rahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,demikian semoga manfaat buat kita semua,sebagai Renungan’. Yang benar haq semua datang-Nya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,yang kurang dan khilaf mohon sangat dimaafkan ’’Akhirul qalam “Wa tawasau bi al-haq Watawa saubil shabr “.Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala . senantiasa menunjukkan kita pada sesuatu yang di Ridhai dan di Cintai-Nya..Aamiin Allahum Aamiin.
❀ Jazzakumullahu khayran wa Barakallahu fiikum. ❀
❀SaLaM SantuN Erat SiLatuRahmi dan UkhuWaH FillaH✿
✿¸.•❤•.❀ ✿¸.•❤•❤•.❀❀.•❤•.¸✿
❀¸.•❤•.❀ .❀.¸✿ ❀❀.•❤•*• ♥.*•
Bismillahirrahmanirrahiim..
Assallamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
❀¸.•❤•.❀ .❀.¸✿ ❀❀.•❤•*• ♥.*•
Kebanyakan manusia memiliki visi hanya sebatas kehidupan dunia saja. Pikiran, hati, dan tindak tanduk mereka cuma untuk mengejar kesenangan lahiriah saja. Sementara orang-orang yang beriman, memiliki visi yang melampaui kehidupan dunia. Mereka sadar bahwa dunia dan seisinya akan punah pada masanya.Visi mereka tidak berhenti hanya pada dunia melainkan lebih dari itu. Visi mereka mencapai Sang Mahapencipta. Itulah visi akhirat.
Pikiran, hati, dan tindak tanduk mereka tidak diabdikan untuk mereguk kesenangan dunia saja, tetapi ingin meraih Ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka sadar bahwa yang abadi hanyalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dunia dan seisinya akan mereka tinggalkan lalu hancur binasa. Kita pun seharusnya demikian. Janganlah cinta kita terhenti oleh kesenangan dunia, Teruskanlah perjalanan cinta tersebut hingga menuju Sang Pencipta.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :
”Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa : 134).
Memang tidak mudah mengajak diri mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Pesona dunia sangat menggoda dan melalaikan. Namun, manusia bukannya tak mampu melampauinya. Sebab, mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu adalah fitrah.
Fitrah Mencintai ALLAH
Saat kita menengadahkan kepala ke langit, atau berjalan di hamparan bumi nan luas, atau berlayar di samudera yang tak bertepi, maka hati kita akan tergetar. Begitu juga ketika kita mempelajari fenomena air yang mampu menyuburkan tanah, berbagai jenis hewan yang tersebar di seluruh permukaan bumi, bahkan sampai ke dasar samudera, angin bertiup yang tak terlihat sumbernya, awan yang menaungi laksana payung tampa tiang, membuat hati kita terkagum-kagum.
Tapi, orang yang hanya melihat semua itu dari mata lahiriah, akan berhenti sampai pada sesuatu yang tampak secara inderawi saja. Padahal kita diperintahkan agar tidak hanya menyaksikan sesuatu yang tampak saja, melainkan juga memikirkan di balik yang tampak tersebut. Dialah Sang Pencipta.
Al-Qur`an bahkan memuat anjuran ini pada ayat yang turun pertama kali. “Iqra` bismirabbikalladzi khalaq.” Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan.” Ketika kita menyadari bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah pencipta diri dan kehidupan kita maka secara fitrah kita akan cinta dan rindu kepada-Nya. Ini sama seperti fitrah cinta kita kepada kedua orang tua yang menjadi “sumber” keberadaan kita.
Bahkan, cinta kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan berlipat kali cinta kita kepada kedua orang tua. Sebab, pemberian dan kasih sayang yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala jauh melebihi pemberian dan kasih sayang kedua orang tua kita.
ALLAH Cinta Sejati
Ingatlah! Segala sesuatu yang ada di dunia ini, juga segala yang kita cintai, pada hakekatnya adalah kepunyaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam hal apa pun kita mencintai sesuatu, baik keindahannya, kasih sayangnya, kebaikannya, sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala melebihi semua itu.
Jika kita mencintai seseorang karena merasakan kasih sayangnya, maka bandingkanlah dengan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika kita merasa kagum dengan segala kebaikan seseorang maka bandingkanlah dengan kebaikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semua perbandingan itu akan menyadarkan kita bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang, melebihi apa pun.
Jadi, jangan berhenti hanya sampai mencintai sesuatu yang tampak di depan mata. Teruskan perjalanan cinta itu hingga sampai kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Begitulah karakter orang-orang yang beriman sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala Ta’ala : ”Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah,” (QS.Al-Baqarah : 165).
Meraih Cinta ALLAH
Tentu saja kita berharap cinta kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah cinta yang berbalas, bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kita tidak boleh egois dalam mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita tak boleh mencintai semau kita sendiri. Bagaimana caranya agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga mencintai kita? Untuk menjawab ini maka tanyakan kepada diri kita terlebih dahulu, apakah pantas kita dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala?
Jika belum maka buatlah agar diri kita pantas. Nilailah diri kita, bukan dari seberapa banyak kenikmatan yang telah kita dapatkan, tetapi seberapa besar manfaat yang telah kita perbuat selama hidup. Kita bekerja bukan untuk bermegahmegahan, tetapi untuk memberi manfaat sebesar-besarnya kepada orang lain.Nilai pula diri kita apakah selama ini kita telah mengikuti tuntunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya secara benar? Sebab, secara jelas Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :
”Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran : 31)
Apabila kita merasa banyak dosa, segeralah bertaubat dengan menyucikan diri agar kita kembali mendapat cinta-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :
”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS.Al-Baqarah : 222)
Meraih cinta-Nya juga dengan cara memperbanyak amalan kebaikan, menjalankan amalan yang difardhukan, dan mengistiqamahi amalan yang disunnahkan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda :
”Tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku sukai daripada kewajiban yang Aku fardhukan padanya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, kecuali Aku mencintainya.” (Riwayat Bukhari).
Kita semua pasti akan kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Saat kita kembali nanti, semua yang kita miliki akan kita tinggalkan. Apa saja yang kita cintai akan terlepas. Hanya ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menjadi harapan. Kita ingin kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam keadaan ridha dan diridhai. Kita senang kembali kepada-Nya dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga senang menerima kita. Itulah visi akhir hidup yang harus kita raih.
Manusia yang paling sengsara di akhirat adalah manusia yang paling kuat cintanya kepada dunia. Sedangkan manusia yang paling bahagia di akhirat adalah yang paling kuat cintanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Berbahagialah mereka yang dipanggil Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam keadaan hati yang ridha lagi diridhai. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
”Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr “ 27-30).
**Diadaptasi dari : Kajian Utama Majalah Suara Hidayatullah, diedit dan disunting kembali oleh : Nafisah Khairunisa Muenthazzar.**
Sahabat-saudaraku fillah yang di Rahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,demikian semoga manfaat buat kita semua,sebagai Renungan’. Yang benar haq semua datang-Nya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,yang kurang dan khilaf mohon sangat dimaafkan ’’Akhirul qalam “Wa tawasau bi al-haq Watawa saubil shabr “.Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala . senantiasa menunjukkan kita pada sesuatu yang di Ridhai dan di Cintai-Nya..Aamiin Allahum Aamiin.
❀ Jazzakumullahu khayran wa Barakallahu fiikum. ❀
❀SaLaM SantuN Erat SiLatuRahmi dan UkhuWaH FillaH✿
✿¸.•❤•.❀ ✿¸.•❤•❤•.❀❀.•❤•.¸✿
Selasa, 08 Mei 2012
Aku Ingin Bergelar SOLEHAH
Aku Ingin Bergelar SOLEHAH
Aku ingin bergelar solehah
tetapi menjaga auratku sahaja kini sudah terasa payah
aku begitu tertarik dengan fesyen dunia
aku terasa rendah diri bila melihat mereka bergaya
tetapi mana mungkin auratku terdedah
kerana aku ingin bergelar solehah
tetapi menjaga auratku sahaja kini sudah terasa payah
aku begitu tertarik dengan fesyen dunia
aku terasa rendah diri bila melihat mereka bergaya
tetapi mana mungkin auratku terdedah
kerana aku ingin bergelar solehah
Aku ingin bergelar solehah
tetapi tugas isteri tidak lagi mudah
rumahtangga kini begitu mudah ranapnya
ditambah pula dengan sikap suami yang tak dapat dijangka
kadangkala aku dibiar sendiri
kadangkala aku dibelai mesra
namun dalam apa jua ketika walau dalam linangan airmata
aku tidak membantah
aku patuhi jua setiap kehendak
asalkan tidak bertentangan dengan syariatNya
kerana aku sangat ingin sekali bergelar solehah
tetapi tugas isteri tidak lagi mudah
rumahtangga kini begitu mudah ranapnya
ditambah pula dengan sikap suami yang tak dapat dijangka
kadangkala aku dibiar sendiri
kadangkala aku dibelai mesra
namun dalam apa jua ketika walau dalam linangan airmata
aku tidak membantah
aku patuhi jua setiap kehendak
asalkan tidak bertentangan dengan syariatNya
kerana aku sangat ingin sekali bergelar solehah
Aku ingin bergelar solehah
tetapi aku isteri berkerjaya
pergaulanku perlu dijaga
pertuturanku perlu berpada-pada
takut pula nanti ada yang menaruh cinta
takut pula nanti terluka hati suami tercinta
walaupun aku tidak sengaja dan tidak pernah mengundang orang ketiga
tetapi segalanya mungkin
dan aku perlu tabah dan cekal beriman
kerana aku tentunya ingin bergelar solehah
tetapi aku isteri berkerjaya
pergaulanku perlu dijaga
pertuturanku perlu berpada-pada
takut pula nanti ada yang menaruh cinta
takut pula nanti terluka hati suami tercinta
walaupun aku tidak sengaja dan tidak pernah mengundang orang ketiga
tetapi segalanya mungkin
dan aku perlu tabah dan cekal beriman
kerana aku tentunya ingin bergelar solehah
Aku ingin bergelar solehah
dan aku tahu ianya bukan mudah
tetapi aku yakin dengan janji Allah
dan akan ku terus berpegang pada matlamatku
Aku ingin bergelar solehah…
dan aku tahu ianya bukan mudah
tetapi aku yakin dengan janji Allah
dan akan ku terus berpegang pada matlamatku
Aku ingin bergelar solehah…
Langganan:
Postingan (Atom)

